Kemdiktisaintek Akan Luncurkan Kerangka AI Generatif untuk Kampus di KPPTI 2026
Kemdiktisaintek akan meluncurkan kerangka AI generatif sebagai panduan kampus memakai AI secara etis di KPPTI 2026, 11 sampai 13 November di Universitas Airlangga. Taklimat yang sama mengungkap jurnal SINTA 1 hanya 1,5 persen dari 16 ribu jurnal terakreditasi.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) akan meluncurkan kerangka AI generatif sebagai panduan kampus memanfaatkan kecerdasan artifisial dengan memperhatikan etika dan integritas akademik. Rencana itu diumumkan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi dalam taklimat media di Jakarta, Senin (2/11/2026). Peluncurannya dijadwalkan saat Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2026 di Universitas Airlangga, Surabaya, pada 11 sampai 13 November 2026.
Banyak mahasiswa mengira urusan AI di kampus cukup diatur oleh masing-masing dosen lewat silabus. Kenyataannya, kementerian kini menyiapkan pegangan bersama, seiring salah satu subtema KPPTI yang menyoroti perubahan proses pembelajaran dan asesmen di era AI. Pada taklimat yang sama, kementerian bahkan memaparkan data mutu jurnal: dari sekitar 16 ribu jurnal terakreditasi di Indonesia, hanya 1,5 persen yang berada di peringkat SINTA 1.
Ringkasnya: Kemdiktisaintek akan meluncurkan tiga inisiatif di KPPTI 2026 (11 sampai 13 November, Universitas Airlangga): kerangka AI generatif untuk kampus, Digital Maturity Index, dan konsorsium rumah sakit pendidikan. Rangkaian forum November juga mencakup konvensi integritas jurnal ilmiah pada 9 November di Universitas Ciputra serta KSTI 2026 pada 10 sampai 13 November di ITS. Rincian isi kerangka AI belum dipublikasikan.
Daftar Isi
- Apa yang disiapkan Kemdiktisaintek soal AI di kampus
- Jadwal tiga forum November 2026
- Kenapa integritas jurnal ikut disorot
- Apa artinya bagi mahasiswa dan dosen
- FAQ
Apa yang disiapkan Kemdiktisaintek soal AI di kampus?
Menurut rilis resmi Kemdiktisaintek yang terbit Senin (2/11/2026) pukul 14.30 WIB, KPPTI 2026 akan meluncurkan tiga inisiatif strategis. Salah satunya kerangka generatif AI, yang disebut sebagai panduan pemanfaatan kecerdasan artifisial dengan memperhatikan etika dan integritas akademik.
Sementara itu, dua inisiatif lainnya adalah Digital Maturity Index untuk memetakan kematangan transformasi digital perguruan tinggi, serta konsorsium rumah sakit pendidikan. Laporan InfoPublik menambahkan, kerangka AI itu diharapkan membantu kampus memasukkan teknologi ke proses pembelajaran sambil tetap memperhatikan etika, integritas akademik, dan kreativitas.
"Tujuan KPPTI adalah untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi melalui pembelajaran bersama dan kolaborasi," kata Khairul Munadi, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, seperti dikutip rilis kementerian dan Antara.
AI ternyata juga masuk sebagai salah satu dari empat subtema KPPTI 2026, bersama SDGs, kearifan lokal dan ekonomi kerakyatan, serta inklusivitas dan humanisme. Menurut InfoPublik, subtema teknologi digital dan AI menyoroti perubahan proses pembelajaran dan asesmen di era AI, kolaborasi manusia dengan teknologi, serta kesiapan kampus memakai AI secara bertanggung jawab.
Namun, Khairul mengingatkan bahwa transformasi kampus tidak berhenti pada urusan teknologi. Ia menekankan bahwa nilai kemanusiaan dan pemerataan sama pentingnya.
"Keempat tema tersebut diharapkan memperlihatkan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak semata-mata berkaitan dengan penguasaan teknologi. Penguatan nilai kemanusiaan, pemerataan kesempatan, dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan lokal juga menjadi bagian penting dari agenda perubahan," terang Khairul, dikutip InfoPublik.
Padahal, ini bukan pegangan pertama. Pada 2024, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti, yang saat itu masih berada di bawah Kemendikbudristek, sudah menerbitkan Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Hingga Selasa (3/11/2026) pagi, rilis kementerian dan media yang kami periksa belum menjelaskan apakah kerangka baru ini memperbarui atau menggantikan panduan tersebut, dan isi lengkapnya juga belum dipublikasikan.
Jadwal tiga forum Kemdiktisaintek November 2026
Kerangka AI hanyalah satu bagian dari rangkaian tiga forum nasional yang semuanya digelar di Surabaya. Taklimat media itu menghadirkan tiga direktur jenderal sekaligus: Fauzan Adziman (Riset dan Pengembangan), Khairul Munadi (Pendidikan Tinggi), dan Ahmad Najib Burhani (Sains dan Teknologi). Jadwal di bawah ini mengacu pada rilis kementerian, dengan lokasi kota dari Antara.
| Tanggal (2026) | Forum | Tempat |
|---|---|---|
| Senin, 2 November | Taklimat media tiga forum | Kemdiktisaintek, Jakarta |
| Senin, 9 November | Konvensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Ilmiah | Universitas Ciputra |
| Selasa, 10 November sampai Jumat, 13 November | KSTI 2026 (sains, teknologi, dan industri) | ITS |
| Rabu, 11 November sampai Jumat, 13 November | KPPTI 2026, peluncuran kerangka AI generatif | Universitas Airlangga |
Skala KPPTI tahun ini bahkan cukup besar. Menurut detikEdu (Senin, 2/11/2026), forum tiga hari itu memuat 12 sesi tematik dan 48 paparan praktik baik dari perguruan tinggi. InfoPublik mencatat target 1.500 peserta, dan hingga taklimat 2 November sekitar 1.300 orang sudah terdaftar, artinya hampir 9 dari 10 target peserta sudah terdaftar sepekan lebih sebelum acara (perhitungan redaksi).
Sementara itu, KSTI 2026 di ITS akan memamerkan sekitar 500 produk riset yang dikurasi dari sekitar 850 usulan. Hasilnya, kurang dari 6 dari 10 usulan yang lolos ke pameran.
Kenapa integritas jurnal ilmiah ikut disorot?
Salah satu forum yang paling dekat dengan keseharian mahasiswa tingkat akhir justru konvensi jurnal pada 9 November. Media menyingkatnya KTJI, sedangkan rilis kementerian menulis KJTI. Menurut rilis kementerian, forum ini menjadi penyelenggaraan perdana yang secara khusus membahas ekosistem publikasi dan produksi pengetahuan di perguruan tinggi, termasuk pencegahan praktik jurnal predator.
Dirjen Najib memaparkan, Indonesia memiliki sekitar 29 ribu jurnal ilmiah, dan sekitar 16 ribu di antaranya sudah terakreditasi. Namun, masalahnya justru ada di puncak tangga mutu.
"Jadi meskipun kita memiliki banyak jurnal, sebetulnya dari segi kualitas itu mungkin yang berdasarkan kategori SINTA, yang SINTA 1 itu hanya 1,5 persen dari total 16 ribu jurnal yang kita miliki," ujar Ahmad Najib Burhani, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, seperti dikutip Antara.
Alhasil, kalau dihitung, 1,5 persen dari 16 ribu setara sekitar 240 jurnal (perhitungan redaksi, bukan angka resmi kementerian). Artinya, dari setiap 100 jurnal terakreditasi, hanya satu sampai dua yang berada di peringkat tertinggi. Forum ini juga menghadirkan penerbit internasional seperti Elsevier, Taylor & Francis, Sage, Emerald, Wiley, dan Springer, serta memberikan SINTA Award kepada sembilan jurnal terbaik.
Apa artinya bagi mahasiswa dan dosen?
Kini, sampai isi kerangka AI generatif resmi diumumkan, aturan yang berlaku tetap aturan kampus dan dosen masing-masing. Ada 4 hal praktis yang bisa disiapkan sejak sekarang:
- Cek aturan AI di silabus dan pedoman kampus. Makanya, selama kerangka nasional belum terbit, kebijakan kampus dan program studi tetap jadi acuan pertama. Catatan soal risiko AI bagi keahlian mahasiswa bisa dibaca di laporan kekhawatiran Saldi Isra soal AI.
- Biasakan mencatat bantuan AI. Simpan prompt dan bagian tugas yang dibantu AI, supaya mudah dijelaskan kalau dosen bertanya. Formatnya bisa meniru pernyataan AI disclosure di jurnal ilmiah.
- Periksa peringkat jurnal sebelum mengutip atau mengirim naskah. Data SINTA 1 yang hanya 1,5 persen menunjukkan jurnal terakreditasi pun mutunya berlapis. Cara membaca peringkatnya ada di panduan peringkat SINTA dan kuartil Scopus.
- Jangan kutip referensi dari AI tanpa dicek. AI bisa menghasilkan referensi yang tampak meyakinkan padahal tidak pernah terbit, dan mengutipnya bisa berujung masalah integritas akademik. Langkah pengecekannya ada di artikel sitasi halusinasi AI.
Informasi resmi soal KPPTI 2026, termasuk susunan acaranya, menurut detikEdu dapat diakses di laman Ditjen Dikti Kemdiktisaintek.
FAQ: kerangka AI generatif Kemdiktisaintek dan KPPTI 2026
Apa itu kerangka AI generatif Kemdiktisaintek?
Kerangka AI generatif adalah salah satu dari tiga inisiatif yang akan diluncurkan di KPPTI 2026. Menurut Kemdiktisaintek, kerangka ini menjadi panduan pemanfaatan kecerdasan artifisial di perguruan tinggi dengan memperhatikan etika dan integritas akademik. Rincian isinya belum dipublikasikan.
Kapan dan di mana KPPTI 2026 digelar?
KPPTI 2026 akan digelar pada 11 sampai 13 November 2026 di Universitas Airlangga, Surabaya, dengan tema "Transformasi Pendidikan Tinggi Menuju Keberdampakan: Elaborasi Teknologi dan Kearifan Lokal yang Inklusif dan Humanis".
Apakah sudah ada panduan AI untuk kampus sebelumnya?
Ya. Pada 2024, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti menerbitkan Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Belum ada penjelasan resmi apakah kerangka baru memperbarui atau menggantikan panduan itu.
Berapa jurnal Indonesia yang masuk SINTA 1?
Menurut Dirjen Sains dan Teknologi Ahmad Najib Burhani, jurnal SINTA 1 hanya sekitar 1,5 persen dari sekitar 16 ribu jurnal terakreditasi. Secara keseluruhan, Indonesia memiliki sekitar 29 ribu jurnal ilmiah.
Apa saja tiga inisiatif yang akan diluncurkan di KPPTI 2026?
Ketiganya adalah Digital Maturity Index untuk memetakan kematangan transformasi digital kampus, kerangka AI generatif sebagai panduan pemanfaatan AI, dan konsorsium rumah sakit pendidikan.
Bagi mahasiswa yang sedang menulis skripsi atau dosen yang menyiapkan mata kuliah semester depan, peluncuran kerangka AI di Surabaya pekan depan layak dipantau. Kerangka itu diharapkan menjadi pegangan bersama kampus dalam memanfaatkan AI dengan tetap menjaga etika dan integritas akademik, meski rinciannya baru akan terlihat saat diluncurkan.
Sambil menunggu, pastikan referensi tugasmu benar-benar ada. Scholar di kakak.ai mencari paper dari basis data ilmiah seperti Semantic Scholar, OpenAlex, PubMed, dan CrossRef, bukan paper karangan AI, lalu menyiapkan sitasi APA yang bisa kamu periksa sendiri. Coba Sekarang, Gratis.
Platform AI all-in-one untuk produktivitas kamu
Coba kakak.ai Gratis