Apa Itu AI Disclosure dalam Artikel Ilmiah? Aturan Jurnal dan Contoh Pernyataan
AI disclosure adalah pernyataan penulis soal pemakaian alat AI dalam naskah, mencakup nama alat, tujuan, bagian yang dibantu, dan pengawasan manusia. Tidak ada satu format global, karena tiap jurnal punya kebijakannya sendiri yang wajib dicek saat submit.
Apa Itu AI Disclosure dalam Artikel Ilmiah? Aturan Jurnal dan Contoh Pernyataan
Naskah sudah lolos cek kemiripan, format sesuai template, lampiran lengkap. Namun begitu editor membuka berkasnya, muncul pertanyaan yang jarang dipersiapkan penulis: bagian mana dari naskah ini yang dibantu AI? Jawaban resmi atas pertanyaan itu punya nama sendiri, yaitu AI disclosure.
AI disclosure adalah pernyataan terbuka tentang pemakaian alat AI dalam penyusunan naskah atau penelitian, mulai dari alat yang dipakai, tujuan pemakaiannya, bagian yang dibantu, sampai sejauh mana penulis memeriksa hasilnya. Jurnal boleh menyebutnya dengan istilah berbeda, tapi intinya tetap satu, transparansi adalah kewajiban penulis dan bukan teka-teki yang harus ditebak editor.
Salah satu hal pertama yang perlu diluruskan, topik ini bukan soal mengejar jejak AI atau mencari cara lolos dari detektor. Yang dibahas adalah deklarasi resmi sesuai kebijakan jurnal tujuan.
AI disclosure adalah pernyataan penulis tentang pemakaian alat AI dalam menyiapkan naskah, mencakup nama alat, tujuan pemakaian, bagian yang dibantu, dan bentuk pengawasan manusia. Tidak ada satu format global yang berlaku untuk semua jurnal, karena setiap jurnal punya kebijakannya sendiri yang wajib dicek saat submit.
Daftar Isi
Apa Itu AI Disclosure dalam Artikel Ilmiah?
Komite Internasional Editor Jurnal Medis (ICMJE) memberi gambaran paling jelas. Jurnal sebaiknya meminta penulis mengungkapkan saat submit apakah teknologi berbantuan AI, misalnya model bahasa besar, chatbot, atau pembuat gambar, dipakai dalam produksi naskah. Kalau dipakai, penulis menjelaskan penggunaannya di cover letter dan di naskah pada bagian yang sesuai.
Ada 3 prinsip di bawahnya yang sama pentingnya. Chatbot dan alat bantu AI tidak dicantumkan sebagai penulis, karena keduanya tidak bisa bertanggung jawab atas akurasi, integritas, dan orisinalitas karya. Manusia yang menulis tetap memegang tanggung jawab meninjau hasil, memeriksa akurasi, kelengkapan, bias, plagiarisme, serta atribusi dan kutipan. Materi buatan AI juga bukan sumber primer. Rujukan lengkapnya ada di bagian II.A.3 dan IV.A.3.d rekomendasi ICMJE.
ICMJE menambahkan satu catatan yang jarang dibahas: tidak mengungkapkan pemakaian AI bisa memerlukan koreksi, dan dalam kondisi tertentu dipandang sebagai misconduct. Padahal, koreksi semacam itu terbit menyusul artikelnya, bukan sebelumnya. Hasilnya, deklarasi bukan formalitas administratif, melainkan bagian dari integritas riset itu sendiri.
David Resnik, bioetis di National Institute of Environmental Health Sciences yang juga associate editor di jurnal Accountability in Research, menekankan prinsip yang sama dalam wawancara dengan Environmental Factor berikut. "Some human person has to take accountability for the text, so we emphasize transparency, honesty, and full disclosure of use of these types of capabilities."
Kenapa Aturannya Beda di Setiap Jurnal
Pertanyaan yang paling sering muncul, apakah ada satu format yang berlaku di semua jurnal? Jawabannya tidak ada. Per 2026, hampir semua penerbit besar sudah punya halaman kebijakan AI sendiri, tapi isinya justru beragam. Syarat pengungkapan berbeda menurut penerbit, jenis pemakaian, lokasi pernyataan, dan kadang jenis media yang dihasilkan. Jurnal kedokteran, jurnal teknik, dan jurnal humaniora justru bisa meminta hal yang sama sekali berbeda, bahkan untuk gambar, audio, dan video aturannya kerap tidak seragam.
CDC merangkum situasi ini dengan jujur pada Mei 2026. Panduan Considerations for Disclosing Generative AI Use in Scientific Work yang terbit 28 Mei 2026 menyatakan syarat pengungkapan AI berbeda menurut organisasi dan bisa berubah, sehingga penulis perlu membuka instruksi penulis jurnal tujuan pada hari submit. Panduan CDC sendiri bukan pengganti kebijakan jurnal, melainkan alat bantu praktis.
Studi yang diringkas Physics World pada 5 Maret 2026 menganalisis 75.000 artikel yang terbit sejak 2023 dan menemukan hanya 76 artikel, sekitar 0,1 persen, yang eksplisit mengungkap pemakaian alat tulis AI. Datanya bersumber dari artikel terbitan 2021 sampai 2025, dan studi itu mencatat 70 persen jurnal punya kebijakan AI. Survei Nature terhadap 5.000 peneliti pada 14 Mei 2025 menunjukkan pandangan terbelah soal apa yang perlu diungkap. Ternyata, kebijakan yang tersedia belum otomatis membuat penulis mengungkap pemakaiannya.
Angka-angka itu menjelaskan satu hal penting. Kebijakan sudah banyak tersedia, namun pemahaman penulis soal cara mengungkapnya masih timpang. Makanya, menulis deklarasi yang jelas dan sesuai format jurnal jadi langkah yang paling menentukan, bukan sekadar menyatakan bahwa AI tidak dipakai.
Bandingkan Kebijakan: ICMJE, Elsevier, dan Springer Nature
3 contoh kebijakan berikut cukup untuk melihat pola perbedaannya. ICMJE, Elsevier, dan Springer Nature sama-sama menuntut transparansi, namun menaruh pernyataan di tempat yang tidak sama dan meminta tingkat detail yang berbeda.
| Penerbit / komite | Apa yang diminta | Di mana dinyatakan | Catatan |
|---|---|---|---|
| ICMJE | Penulis mengungkapkan apakah teknologi berbantuan AI dipakai dalam produksi naskah, dan menjelaskan cara pemakaiannya | Cover letter dan naskah pada bagian yang sesuai | Chatbot dan alat AI tidak dicantumkan sebagai penulis; manusia bertanggung jawab atas akurasi, atribusi, dan kutipan |
| Elsevier | Pernyataan deklarasi AI terpisah, memuat nama alat, tujuan pemakaian, dan sejauh mana penulis mengawasi hasil | Deklarasi khusus di dalam manuskrip saat submit, lalu tampil pada artikel terbit | Penulis memeriksa fakta, bias, rujukan, privasi dan kerahasiaan data, serta syarat penggunaan alat |
| Springer Nature | Penggunaan AI didokumentasikan, dengan penekanan pada verifikasi manusia dan transparansi | Methods atau bagian setara, dan untuk buku pada acknowledgements atau preface | AI tidak dapat menjadi penulis karena tidak bisa memikul akuntabilitas; penempatan bisa berbeda antar jurnal |
Perbedaan paling terasa ada di lokasi pernyataan. ICMJE menempatkan pengungkapan pada 2 tempat sekaligus, cover letter dan naskah, Elsevier meminta deklarasi terpisah yang ikut tampil pada artikel terbit, sedangkan Springer Nature mengarahkan dokumentasi ke Methods atau bagian setara. Sementara itu, detail yang diminta juga berjenjang, dan beberapa jurnal bahkan meminta catatan versi alat serta bentuk pengawasan.
Elsevier menyediakan format bakunya. Judul bagiannya Declaration of generative AI and AI-assisted technologies in the manuscript preparation process, dan isinya memuat nama alat, alasan pemakaian, serta pernyataan bahwa penulis sudah meninjau dan menyunting hasilnya. Penulis juga diminta memeriksa 4 hal tambahan, yaitu fakta, bias, rujukan, serta privasi dan kerahasiaan data. Kebijakan ini diperbarui pada Juni 2026.
Bedakan AI untuk Bahasa dan AI untuk Substansi
Kini, kebijakan jurnal biasanya membedakan 2 jenis pemakaian. Yang pertama, AI untuk merapikan bahasa, menerjemahkan, atau menyusun kerangka awal. Yang kedua, AI yang menyusun substansi, menganalisis data, membuat gambar, atau membentuk kesimpulan. Dua hal ini punya tingkat risiko yang berbeda dan tidak diperlakukan dengan cara yang sama.
Springer Nature memakai pendekatan lampu lalu lintas dengan 2 kategori utama. Pemakaian asisten seperti penyuntingan bahasa masuk kategori hijau, sementara pemakaian yang evaluatif atau interpretatif masuk kategori kuning. AI tidak dapat menjadi penulis karena tidak bisa memikul akuntabilitas, dan penggunaannya harus didokumentasikan pada Methods atau bagian setara.
Ellie Gendle, head of journals policy di Springer Nature, menulis di Times Higher Education bahwa hambatan terbesar justru rasa takut peneliti. "If researchers continue to view declarations as grounds for suspicion rather than a normal part of scholarly communication, they will always be reluctant to make them." Gendle menambahkan bahwa ketidakjelasan soal tempat dan tingkat detail deklarasi membuat peneliti menahan informasi.
Untuk pemakaian yang menyangkut data, kehati-hatian naik satu tingkat. CDC menyarankan penulis mencatat prompt, setting, input, dan langkah validasi secukupnya agar hasil bisa direproduksi, sambil tetap menjaga keamanan data. Naskah yang belum terbit dan data sensitif tidak boleh dimasukkan ke alat AI publik. Namun, kebutuhan reproduksibilitas tetap harus dipenuhi.
Contoh Redaksi Pernyataan AI Disclosure
CDC merumuskan satu pola yang mudah dipakai, yaitu konten yang terpengaruh, tindakan yang diambil, alat AI yang dipakai, tujuan pemakaian, dan bentuk pengawasan manusia. Ada 5 elemen di dalamnya yang bisa dirangkai jadi satu kalimat utuh, lalu disesuaikan dengan gaya jurnal. CDC memberi 3 contoh kalimat deklarasi yang siap diadaptasi.
Beberapa contoh redaksi ilustratif berikut bisa diadaptasi. Namun, semua contoh ini bukan kutipan wajib dari jurnal mana pun, jadi tetap sesuaikan dengan format yang diminta.
- Bagian pendahuluan dan pembahasan disunting menggunakan [nama alat] [versi] untuk memperbaiki kejelasan bahasa; penulis meninjau dan menyetujui seluruh perubahan.
- [Nama alat] [versi] dipakai untuk menyusun kode analisis; penulis menguji dan memvalidasi seluruh kode sebelum dijalankan.
- Gambar 1 dibuat menggunakan [nama alat] [versi]; penulis memeriksa akurasi seluruh hasil dan tetap bertanggung jawab atas isinya.
Satu contoh nyata bisa dilihat di catatan akhir artikel Gendle. Times Higher Education menulis bahwa AI dipakai untuk memberi saran struktur, sementara konseptualisasi dan penulisan substansial dikerjakan penulis, dan akuntabilitas penuh tetap ada padanya. Catatan sesingkat itu sudah memenuhi prinsip transparansi dan pengawasan manusia.
Nada deklarasi sebaiknya lugas dan tidak defensif. Sebutkan apa yang dikerjakan, bukan sekadar menyatakan bahwa AI dipakai. Kalimat seperti merapikan bahasa, mengecek tata bahasa, atau menyusun kerangka awal jauh lebih berguna bagi editor daripada pernyataan umum tanpa rincian.
Checklist Sebelum Submit
Sebelum menekan tombol submit, ada beberapa hal yang perlu dicek ulang. Alhasil, 5 langkah berikut disusun agar deklarasi tidak salah tempat.
- Buka halaman Instructions for Authors jurnal tujuan pada hari submit, idealnya 24 jam sebelum deadline, bukan versi lama yang tersimpan berbulan-bulan lalu, karena kebijakan AI bisa berubah kapan saja.
- Catat alat yang dipakai, tanggal pemakaian, tujuan, dan bagian naskah yang dibantu, supaya deklarasi bisa ditulis tanpa menebak-nebak.
- Verifikasi ulang setiap kutipan dan angka dari sumber aslinya, karena rujukan buatan AI adalah salah satu sumber koreksi paling sering. Untuk pemeriksaan berlapis, alur di Multi-Model Verification kakak.ai bisa jadi pembanding.
- Lindungi naskah yang belum terbit dan data sensitif dengan tidak memasukkannya ke alat AI publik atau layanan yang penyimpanannya tidak jelas.
- Tempatkan deklarasi sesuai format yang diminta jurnal, entah di Methods, deklarasi terpisah, cover letter, atau gabungan ketiganya. Editor Dokumen kakak.ai berguna untuk menyeragamkan format sebelum naskah dikirim.
Pemeriksaan terakhir menyangkut versi kebijakan. Catatan dalam artikel ini mengacu pada kebijakan yang dibaca dan diverifikasi 14 Oktober 2026, dan tanggal itu penting karena penerbit besar memperbarui panduannya secara berkala. Kalau alur dari manuskrip sampai submit masih terasa berantakan, urutannya pernah saya uraikan di workflow publikasi jurnal ilmiah.
Catatan sumber bisa membantu saat memeriksa ulang: panduan CDC terbit 28 Mei 2026, artikel Gendle di Times Higher Education terbit 11 September 2026, kebijakan Elsevier diperbarui Juni 2026, survei Nature terhadap 5.000 peneliti dirilis 14 Mei 2025, dan studi 75.000 artikel yang diringkas Physics World terbit 5 Maret 2026.
FAQ: Pertanyaan Umum
Apakah AI boleh dipakai untuk menulis artikel ilmiah?
Boleh untuk banyak keperluan, selama jurnal tujuan mengizinkan dan pemakaiannya diungkapkan. ICMJE dan Springer Nature menegaskan AI tidak bisa menjadi penulis, karena tanggung jawab atas akurasi dan orisinalitas tetap pada manusia. Untuk pemakaian yang menyusun substansi, cek dulu apakah jurnal mengizinkan atau melarangnya.
Apakah AI bisa dicantumkan sebagai penulis?
Tidak. ICMJE, Elsevier, Springer Nature, dan CDC sepakat bahwa AI tidak memenuhi kriteria kepenulisan karena tidak bisa memikul akuntabilitas. Alat AI juga bukan sumber primer, jadi tidak bisa dipakai sebagai rujukan utama dalam daftar pustaka.
Di mana deklarasi AI ditulis?
Tergantung jurnal tujuan. ICMJE mengarahkan pengungkapan ke cover letter dan naskah, Elsevier meminta deklarasi terpisah pada manuskrip, Springer Nature mengarahkan ke Methods atau bagian setara, dan CDC menyebut Methods, acknowledgements, atau cover letter sesuai syarat jurnal.
Apa isi pernyataan AI disclosure?
Minimal nama alat dan versinya, tujuan pemakaian, bagian atau pekerjaan yang dibantu, serta bentuk pengawasan dan validasi manusia. Untuk pemakaian analitik, tambahkan detail prompt, setting, input, dan langkah validasi secukupnya untuk reproduksibilitas.
Bagaimana kalau saya hanya memakai AI untuk merapikan bahasa?
Tetap dicantumkan. Springer Nature menyatakan penyuntingan bahasa dengan model bahasa perlu dideklarasikan mengikuti panduan AI mereka, dan akuntabilitas manusia atas versi akhir teks tetap berlaku. Banyak jurnal meminta deklarasi ini meski pemakaiannya terbatas.
Apakah aturannya sama di semua jurnal?
Tidak sama. CDC menegaskan syarat pengungkapan AI berbeda menurut organisasi dan bisa berubah, jadi instruksi penulis jurnal tujuan adalah acuan utama saat submit. Perlakukan kebijakan setiap penerbit sebagai contoh, bukan aturan global.
Platform AI all-in-one untuk produktivitas kamu
Coba kakak.ai Gratis