kakak.aiBlog
Semua Artikel
Wakil Ketua MK Saldi Isra Khawatir AI Lemahkan Keahlian Anak Muda: Apa Pesannya untuk Mahasiswa
News

Wakil Ketua MK Saldi Isra Khawatir AI Lemahkan Keahlian Anak Muda: Apa Pesannya untuk Mahasiswa

Oleh Vita·Ditinjau Tim Redaksi kakak.aiKamis, 29 Oktober 202610 menit baca

Wakil Ketua MK Saldi Isra mengingatkan mahasiswa pada Rabu, 28 Oktober 2026, agar AI hanya jadi alat bantu dan tidak menggantikan kebiasaan membaca, menulis, dan berkomunikasi. Ini pesannya, jaminan soal putusan MK, dan cara praktis memakai AI untuk tugas kuliah.

Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Saldi Isra mengingatkan mahasiswa agar tidak menyerahkan tugas menulis sepenuhnya kepada kecerdasan buatan (AI). Pesan itu ia sampaikan dalam talkshow Open House dan Ngopi Bareng #Courtizen Jilid 5 di Aula Gedung I MK, Jakarta, pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang merujuk pada ikrar pemuda tahun 1928. Menurut Saldi, AI boleh dipakai sebagai alat bantu, asalkan tidak mematikan 3 kemampuan dasar anak muda: membaca, menulis, dan berkomunikasi.

Pertanyaan soal AI itu datang dari seorang mahasiswa peserta acara. Menurut Humas MK, untuk acara ini MK mengundang 65 pengikut akun media sosial MK dan 6 penggiat media sosial bidang hukum. Jawabannya ternyata panjang, mulai dari kekhawatiran soal ruang sidang, cerita kawan dosennya di Australia, sampai jaminan bahwa putusan MK tidak ditulis dengan AI. Namun bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan makalah malam ini, satu kalimatnya paling terasa: jangan sampai makalah selesai, tetapi kemampuan menulis tidak ikut tumbuh.

Forum ini sendiri digelar ketika MK, menurut survei Muda Bicara ID yang dipaparkan Kepala Biro Humas dan Protokol MK Pan Mohamad Faiz Kusuma Wijaya, meraih skor kepuasan 59,05%, tertinggi di antara lembaga negara di mata kelompok muda.

Ringkasnya: Pada Rabu (28/10/2026), Wakil Ketua MK Saldi Isra menyatakan khawatir pemakaian AI yang tidak bijak melemahkan keahlian generasi muda. Ia tidak melarang AI, tetapi meminta AI dipakai sebagai alat bantu yang tidak menggantikan kebiasaan membaca, menulis, dan berkomunikasi. Saldi juga menjamin 9 hakim konstitusi tidak pernah memakai AI untuk menyusun putusan.

Daftar Isi

Apa yang disampaikan Saldi Isra soal AI?

Saldi justru mengaku termasuk orang yang waspada terhadap AI, terutama bila dipakai tanpa bijak. Menurut Antara, ia khawatir pemakaian AI yang tidak bijak bisa melemahkan keahlian generasi muda untuk bersaing, baik di dunia kerja maupun pendidikan. Kekhawatiran itu ia kaitkan langsung dengan dunia peradilan yang ia geluti sehari-hari.

"Saya termasuk orang yang khawatir dengan AI dan turunannya. Jangan-jangan nanti kita tidak lagi semuanya datang ke persidangan," kata Saldi Isra, Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi, seperti dikutip Antara.

Maksudnya, ia membayangkan orang cukup memasukkan data ke AI lalu menerima jawaban tanpa perlu datang ke pengadilan. Padahal, menurut Saldi, hakim punya perasaan yang tidak dimiliki AI, sehingga bisa membaca siapa yang berbohong di ruang sidang dari penyimpangan antara keterangan awal dan akhir.

Kekhawatiran itu kemudian ia bawa ke dunia kampus, dengan bercerita bahwa seorang kawan dosennya di Australia kembali mengajar dengan cara konvensional. Menurut Saldi, kawannya itu membandingkan kelas yang memakai AI dengan kelas manual, dan hasilnya mahasiswa di kelas manual punya kemampuan analitis yang jauh lebih baik. Namun nama kampus, jumlah peserta, dan metode survei itu tidak disebutkan dalam 3 pemberitaan yang kami periksa, jadi cerita ini sebaiknya dibaca sebagai pengalaman yang ia dengar, bukan hasil riset yang sudah terbit.

Dari situ, pesannya kepada mahasiswa terdengar jelas, seperti ditulis Kompas.com, yakni anak muda jangan sampai dikendalikan AI. Jangan sampai tugas makalah dari dosen tinggal dimasukkan ke AI, makalahnya selesai, tetapi keahlian menulis mahasiswa tidak berkembang.

Bahkan Saldi, hakim asal Sumatera Barat itu, mengaku tidak memakai AI sampai sekarang, kecuali Kamus Besar Bahasa Indonesia daring.

"Karena apa? karena saya tidak mau keahlian saya diganti oleh AI itu," ucap Saldi Isra, seperti dikutip Antara.

WaktuPeristiwaSumber
Rabu, 28 Oktober 2026Open House dan Ngopi Bareng #Courtizen Jilid 5 bertema "Pemuda Berdampak, Hadir Bermakna!" di Aula Gedung I MK, JakartaHumas MK
Rabu, 28 Oktober 2026Saldi Isra berpesan agar anak muda memperbaiki minat baca, kemampuan menulis, dan kemampuan berkomunikasiHumas MK, Antara
Rabu, 28 Oktober 2026Menjawab pertanyaan mahasiswa, Saldi menyampaikan kekhawatirannya soal AI dan menjamin putusan MK tidak disusun dengan AIAntara, Kompas.com, Republika
Kamis, 29 Oktober 2026Pernyataan Saldi soal AI diberitakan media nasionalAntara, Kompas.com, Republika

Tiga kemampuan apa yang menurut Saldi tidak boleh hilang?

Yang dimaksud Saldi dengan "tiga hal" adalah membaca, menulis, dan berkomunikasi. Ketiganya justru ia sebut sebagai modal utama anak muda sebelum pembicaraan beralih ke AI pada Rabu (28/10/2026) itu. Siaran pers Humas MK mencatat pesannya secara utuh, termasuk urutan prioritasnya.

"Dari catatan saya, paling tidak kita memang harus memperbaiki minat baca. Kemampuan membaca itu harus diperbaiki, tidak bisa tidak. Yang kedua, memperbaiki kemampuan menulis," tegas Saldi Isra dalam siaran pers MK.

Ia menambahkan kemampuan berkomunikasi dengan baik sebagai modal ke-3. Kalau ketiganya dimiliki, menurut Saldi, tidak ada halangan bagi anak muda untuk maju, sehingga garis yang ia tarik ada di antara AI yang membantu dan AI yang menggantikan kemampuan itu.

Narasumber lain di acara yang sama, Pendiri Sekolah Tanah Air dan Distrik Berisik Rian Fahardhi, ternyata juga menekankan literasi. Ia membahas kecemasan anak muda di era digital, ketika informasi beredar sangat cepat, berbekal perjalanannya dari Makassar, Ternate, sampai Sabang.

"Salah satu fungsi untuk menjadikan kecemasan sebagai kompas adalah memperbanyak literasi. Literasi bisa kita capai kalau kita setia terhadap pengetahuan," tutur Rian Fahardhi, Pendiri Sekolah Tanah Air dan Distrik Berisik, dalam siaran pers MK.

Apakah MK memakai AI untuk menyusun putusan?

Menurut Saldi, jawabannya tidak, karena semua putusan MK murni hasil kerja 9 hakim konstitusi lewat rapat permusyawaratan hakim (RPH), tanpa bantuan AI. Kadang para hakim, termasuk dirinya, bahkan masih merujuk buku konvensional untuk menentukan posisi hukum.

"Kami sampai hari ini tidak pernah menggunakan AI untuk bikin putusan. Bisa saya jamin 100 persen tidak ada," ucap Saldi Isra, seperti dikutip Republika.

Saldi lalu menjelaskan alurnya: setelah perkara selesai disidangkan, tiap hakim dari 9 hakim konstitusi menyusun pendapat hukum masing-masing. Dalam RPH ditentukan satu hakim drafter yang menyiapkan rancangan putusan bersama panitera pengganti. Rancangan itu lalu dibacakan kata per kata di ruang RPH, sehingga menurut Saldi sulit ada intervensi AI. Putusan juga memuat 2 tanggal, yaitu tanggal diputuskan dan tanggal diucapkan.

Apa kata riset soal AI dan kemampuan berpikir?

Kekhawatiran serupa sudah lama diteliti di luar ruang sidang, terutama di kampus. Salah satu yang ramai dibahas adalah studi tim MIT Media Lab berjudul "Your Brain on ChatGPT", laporan setebal 216 halaman dengan 102 gambar yang pertama kali diunggah ke arXiv pada 10 Juni 2025. Penelitinya membagi 54 peserta ke 3 kelompok saat menulis esai dalam 3 sesi: memakai model bahasa besar (LLM), memakai mesin pencari, dan tanpa alat sama sekali, lalu 18 peserta yang ikut sesi ke-4 bertukar kondisi antara kelompok LLM dan kelompok tanpa alat.

Hasil rekaman EEG menunjukkan konektivitas otak paling kuat pada kelompok tanpa alat, sedang pada kelompok mesin pencari, dan paling lemah pada kelompok LLM yang menulis dengan bantuan chatbot. Para peserta kelompok LLM, yang diamati sejak sesi ke-1, bahkan kesulitan mengutip esai yang baru mereka tulis sendiri, dan selama sekitar 4 bulan hasil mereka konsisten lebih rendah. Namun ada catatan penting: studi ini berupa pracetak di arXiv dengan jumlah peserta kecil, sehingga hasilnya belum bisa digeneralisasi ke semua mahasiswa.

Meski begitu, arah temuannya sejalan dengan pesan Saldi, sebab yang perlu diwaspadai rupanya bagian berpikir yang ikut diserahkan ke alat. Literasi AI yang sehat, seperti dibahas di artikel empat kemampuan literasi AI untuk siswa dan guru, justru dimulai dari tahu kapan harus berpikir sendiri.

Apa yang bisa dilakukan mahasiswa mulai sekarang?

Kini pesan Saldi bisa diterjemahkan menjadi kebiasaan kecil saat mengerjakan tugas, dari makalah 5 halaman sampai skripsi. Berikut 4 langkah yang bisa langsung dicoba:

  1. Baca sumbernya dulu, baru bertanya ke AI. Pakai AI untuk memperjelas bagian yang sulit, bukan untuk menggantikan bacaan. Kalau AI memberi referensi, cek keberadaannya; caranya ada di artikel cara mengecek referensi fiktif dari AI.
  2. Tulis draf pertama sendiri. Biarkan AI memberi umpan balik pada draf yang sudah ada, bukan menulis dari nol, sehingga kemampuan menulis yang dikhawatirkan Saldi tetap terlatih.
  3. Minta AI bertanya balik. Alih-alih meminta jawaban, minta AI mengajukan pertanyaan yang menguji pemahamanmu, pola yang dikenal sebagai metode belajar Socratic.
  4. Jelaskan ulang dengan suaramu sendiri. Sebelum mengumpulkan tugas, coba jelaskan isinya secara lisan ke 1 atau 2 teman, karena kalau tersendat, berarti bagian itu belum benar-benar kamu pahami.

Bagi yang sedang menyiapkan beasiswa, pertanyaan serupa ternyata juga muncul di seleksi LPDP. Batasnya dibahas di artikel batas aman memakai AI untuk esai LPDP.

FAQ: Saldi Isra dan Pemakaian AI oleh Anak Muda

Kapan dan di mana Saldi Isra menyampaikan kekhawatirannya soal AI?

Saldi menyampaikannya pada Rabu (28/10/2026), dalam talkshow Open House dan Ngopi Bareng #Courtizen Jilid 5 di Aula Gedung I Mahkamah Konstitusi, Jakarta, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Apakah Saldi Isra melarang mahasiswa memakai AI?

Tidak. Saldi menyebut AI boleh dipakai sebagai alat bantu, selama tidak mematikan 3 hal, yaitu kebiasaan membaca, kemampuan menulis, dan kemampuan berkomunikasi. Yang ia kritik adalah makalah yang selesai lewat AI tanpa kemampuan menulis mahasiswa ikut berkembang.

Apakah Mahkamah Konstitusi memakai AI untuk membuat putusan?

Menurut Saldi, tidak pernah, dan ia menjaminnya 100 persen karena semua putusan disusun 9 hakim konstitusi lewat rapat permusyawaratan hakim, dengan rancangan yang dibacakan kata per kata sebelum disepakati.

Apakah ada penelitian yang mendukung kekhawatiran soal AI dan kemampuan berpikir?

Ada beberapa, salah satunya studi MIT Media Lab "Your Brain on ChatGPT" (arXiv, Juni 2025) dengan 54 peserta yang menemukan konektivitas otak paling lemah pada kelompok penulis esai yang memakai LLM. Studi ini masih berupa pracetak dengan sampel kecil, jadi hasilnya perlu dibaca hati-hati.

Bagaimana cara memakai AI untuk tugas kuliah tanpa kehilangan kemampuan menulis?

Baca sumber lebih dulu, tulis draf pertama sendiri, lalu gunakan AI untuk umpan balik atau pertanyaan yang menguji pemahaman, dan sebelum mengumpulkan, jelaskan ulang isi tugas dengan kata-katamu sendiri.

Pesan Saldi di Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada akhirnya sederhana: AI boleh membantu, tetapi membaca, menulis, dan berkomunikasi tetap harus dilatih sendiri. Bagi mahasiswa, ujian sebenarnya adalah apakah setelah tugas selesai mereka benar-benar jadi lebih paham.

Kalau ingin mencoba pola belajar seperti itu, kamu bisa memulainya di kakak.ai: unggah catatan kuliah atau draf makalahmu, lalu minta kakak.ai memberi pertanyaan latihan dan umpan balik, bukan jawaban jadi. Coba Sekarang, Gratis.

Platform AI all-in-one untuk produktivitas kamu

Coba kakak.ai Gratis