Apa itu Peringkat SINTA dan Kuartil Scopus Q1-Q4? Panduan Memilih Jurnal setelah Akreditasi Kini Hanya 4 Peringkat
Sejak Permendiktisaintek 9/2026, peringkat akreditasi jurnal diringkas dari 6 jadi 4 tingkat. Ini arti Peringkat 1-4, nasib SINTA 5 dan 6, bedanya dengan kuartil Scopus Q1-Q4, dan cara mengecek jurnal sebelum submit.
Di ruang dosen, pertanyaan "jurnalnya SINTA berapa?" sudah seperti salam pembuka. Banyak yang menganggap jawabannya sederhana: ada SINTA 1 sampai SINTA 6, makin kecil angkanya makin bagus, dan Q1 Scopus kira-kira sama dengan SINTA 1. Namun sejak 7 Juli 2026, peta itu berubah, dan anggapan "SINTA 1 setara Q1" ternyata keliru sejak awal.
Pemicunya Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah. Aturan yang ditetapkan 29 Juni 2026 dan diundangkan 8 hari kemudian itu mencabut Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2018, sekaligus meringkas peringkat jurnal terakreditasi dari 6 tingkat menjadi 4 tingkat. Alhasil, mahasiswa S2 yang mengejar syarat lulus dan dosen yang mengejar angka kredit perlu membaca ulang aturan mainnya.
Jawaban singkat: Peringkat SINTA adalah peringkat akreditasi jurnal nasional dari Kemdiktisaintek. Sejak Permendiktisaintek 9/2026, jurnal terakreditasi diberi Peringkat 1 sampai 4 (nilai 60 sampai 100), berlaku 5 tahun. Kuartil Scopus Q1 sampai Q4 adalah hal lain: posisi jurnal dalam bidangnya menurut skor sitasi SJR dari SCImago. Keduanya tidak bisa disetarakan.
Daftar Isi
- Pengertian peringkat SINTA
- Perubahan aturan 2026
- Nasib SINTA 5 dan 6
- Bobot penilaian akreditasi
- Kuartil Scopus Q1-Q4
- Cara cek peringkat dan masa berlaku
- Tanda jurnal bermasalah
- Memilih jurnal dengan kakak.ai
- FAQ
Apa itu peringkat SINTA sebenarnya?
Peringkat SINTA adalah label hasil akreditasi jurnal ilmiah nasional yang ditampilkan di Science and Technology Index (SINTA), portal milik Kemdiktisaintek. Menariknya, Permendiktisaintek 9/2026 sendiri tidak menyebut nama SINTA. Pasal 9 hanya menulis bahwa peringkat dimuat di "sistem pengindeks ilmu pengetahuan dan teknologi", dan dalam praktik sistem itu memang SINTA.
Skalanya besar sekali. Menurut data Kemdiktisaintek 2026 yang dikutip Ahmad Najib Burhani, ada 29.821 jurnal Indonesia yang punya e-ISSN, dan 16.680 di antaranya sudah terakreditasi. Bahkan lonjakan terbesar terjadi pada 2025, dari 10.482 menjadi 15.453 jurnal terakreditasi, atau bertambah hampir 5.000 jurnal dalam setahun.
Sebaran peringkatnya juga timpang. Jurnal SINTA 3, 4, dan 5 mencakup 14.594 jurnal atau sekitar 87 persen, SINTA 2 berisi 1.629 jurnal (9,7 persen), sementara SINTA 1 hanya 262 jurnal atau 1,5 persen. Makanya slot di jurnal peringkat atas selalu diperebutkan, dan antrean reviewnya sering berbulan-bulan.
Apa yang berubah di aturan akreditasi jurnal 2026?
Perubahan paling terasa justru ada di jumlah tingkat. Kini jurnal hanya punya dua kemungkinan status, terakreditasi atau tidak terakreditasi, dan yang terakreditasi diberi Peringkat 1 sampai 4. Rentang nilainya diatur dalam Keputusan Dirjen Sains dan Teknologi Nomor 374/DST/D.D1/HM.01.01/2026 yang ditetapkan 6 Agustus 2026 sebagai petunjuk teknis.
| Aspek | Aturan lama (Permenristekdikti 9/2018) | Aturan baru (Permendiktisaintek 9/2026) |
|---|---|---|
| Jumlah peringkat | 6 (SINTA 1 sampai SINTA 6) | 4 (Peringkat 1 sampai 4) |
| Peringkat 1 | SINTA 1 (nilai 85 sampai 100) | Nilai 90 sampai 100 |
| Peringkat 2 | SINTA 2 (nilai 70 sampai kurang dari 85) | Nilai 80 sampai kurang dari 90 |
| Peringkat 3 | SINTA 3 (nilai 60 sampai kurang dari 70) | Nilai 70 sampai kurang dari 80 |
| Peringkat 4 | SINTA 4 (nilai 50 sampai kurang dari 60) | Nilai 60 sampai kurang dari 70 |
| Peringkat 5 dan 6 | SINTA 5 (nilai 40 sampai kurang dari 50) dan SINTA 6 (nilai 30 sampai kurang dari 40) | Tidak ada lagi |
| Tidak terakreditasi | Nilai di bawah 30 | Nilai di bawah 60 |
| Masa berlaku | 5 tahun | 5 tahun, wajib dicantumkan di laman jurnal |
Aturan baru bahkan memperketat syarat dasar. Pasal 4 mewajibkan jurnal punya e-ISSN dan DOI, sedangkan petunjuk teknisnya meminta jurnal sudah terbit minimal 3 tahun berturut-turut, minimal 2 kali setahun, dengan sedikitnya 5 artikel tiap terbitan. Jurnal juga wajib mencantumkan kebijakan etika yang mengacu pada COPE serta informasi biaya publikasi (APC) secara terbuka.
Ada pula detail kecil yang justru relevan buat era AI. Unsur kelengkapan laman dalam petunjuk teknis memuat "kebijakan penggunaan AI", sehingga jurnal kini ikut dinilai dari cara mereka mengatur bantuan AI. Topik ini sudah kami bahas di artikel tentang AI disclosure dalam artikel ilmiah.
Apakah jurnal SINTA 5 dan SINTA 6 masih diakui?
Ya, masih diakui sampai masa akreditasinya habis. Pasal 16 Permendiktisaintek 9/2026 menyatakan peringkat yang ditetapkan sebelum aturan berlaku tetap sah sampai masa berlakunya selesai. Jadi artikel yang terbit di jurnal SINTA 5 periode 2023 sampai 2028, misalnya, tetap tercatat terakreditasi selama periode itu.
Bedanya baru terasa ketika jurnal tersebut mengajukan akreditasi ulang, dan di sinilah aturan baru justru menggigit. Menurut Pasal 13, pengajuan paling lambat 6 bulan sebelum masa berlaku habis, dan jurnal yang tidak mengajukan otomatis dinyatakan tidak terakreditasi ketika periodenya berakhir. Padahal tidak ada lagi tingkat 5 dan 6, sehingga jurnal itu harus mencapai nilai minimal 60 untuk masuk Peringkat 4.
Pemerintah juga tidak lagi diam setelah sertifikat terbit. Pasal 15 memberi Dirjen wewenang memantau mutu secara berkala maupun sewaktu-waktu, termasuk dari pengaduan masyarakat yang terverifikasi, lalu menurunkan peringkat, membekukan sementara, atau mencabut status akreditasi.
Apa saja yang dinilai dalam akreditasi jurnal?
Penilaian dibagi menjadi dua kelompok dengan total 100 poin. Tata kelola mendapat bobot 46 poin, sementara mutu artikel mendapat 54 poin. Klaim "substansi berbobot 54 persen" yang beredar di media sosial perlu diluruskan, karena angka 54 itu gabungan substansi (34 poin) dan gaya penulisan serta penyuntingan (20 poin).
| Kelompok | Unsur | Bobot |
|---|---|---|
| Tata kelola (46) | A. Konsistensi identitas | 2 |
| Tata kelola (46) | B. Tata kelola dan keberagaman mitra bestari, editor, penulis | 22 |
| Tata kelola (46) | C. Kelengkapan laman | 7 |
| Tata kelola (46) | D. Keberkalaan penerbitan | 3 |
| Tata kelola (46) | E. Penyebarluasan | 12 |
| Mutu artikel (54) | F. Mutu artikel (substansi) | 34 |
| Mutu artikel (54) | G. Gaya penulisan dan penyuntingan | 20 |
Salah satu tambahan pentingnya adalah disinsentif. Nilai jurnal bisa dikurangi bila ditemukan pelanggaran integritas akademik atau masalah ethical clearance, dan kekhawatiran itu bukan teori belaka. Ahmad Najib Burhani, Dirjen Sains dan Teknologi yang menandatangani petunjuk teknis tersebut, menggambarkan polanya dalam esainya di Kompas, 20 Agustus 2026.
"Ketika mengajukan akreditasi, misalnya, jurnal itu hanya menerbitkan enam edisi dalam setahun dengan 10 artikel per edisi. Begitu mendapatkan akreditasi, ia menerbitkan 24 edisi dalam setahun dan jumlah artikelnya lebih dari 100 dalam setiap edisi," tulis Ahmad Najib Burhani, Dirjen Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek.
Hasilnya mencolok: dari 60 artikel per tahun menjadi lebih dari 2.400 artikel per tahun, atau naik 40 kali lipat. Pola inilah yang ingin dicegat lewat pemantauan berkala, pencantuman APC yang terbuka, dan pengurangan nilai untuk pelanggaran integritas.
Apa itu kuartil Scopus Q1 sampai Q4, dan apakah sama dengan SINTA?
Kuartil Scopus adalah posisi jurnal dalam satu kategori bidang menurut skor SJR (SCImago Journal Rank). Menurut halaman bantuan SCImago, SJR menghitung sitasi berbobot pada tahun tertentu terhadap dokumen yang terbit dalam 3 tahun sebelumnya. Jurnal dalam satu bidang lalu diurutkan dan dibagi 4 kelompok sama besar: Q1 untuk 25 persen teratas, Q4 untuk 25 persen terbawah.
Perlu dicatat, laman Scopus sendiri memakai metrik lain, yaitu CiteScore dengan jendela sitasi 4 tahun beserta persentil per bidang. Posisi jurnal menurut CiteScore bisa berbeda dari kuartil SJR di SCImago, jadi pastikan kamu tahu versi mana yang diminta kampus atau panitia penilai.
Karena dihitung per bidang, satu jurnal bisa Q1 di kategori A tetapi Q2 di kategori B. Peringkat SINTA justru menilai hal yang berbeda, yaitu tata kelola dan mutu artikel lewat asesor, bukan seberapa sering jurnal dikutip. Burhani menegaskannya dengan kalimat pendek: Scopus adalah sistem indeksasi, bukan akreditasi.
| Pembeda | Peringkat SINTA (akreditasi nasional) | Kuartil Scopus (SJR) |
|---|---|---|
| Penerbit penilaian | Kemdiktisaintek lewat ARJUNA | SCImago, berbasis data Scopus |
| Yang diukur | Tata kelola 46 poin dan mutu artikel 54 poin | Sitasi berbobot dalam satu bidang |
| Skala | Peringkat 1 sampai 4 | Q1 sampai Q4 |
| Masa berlaku | 5 tahun | Dihitung ulang setiap tahun |
| Risiko utama | Diturunkan atau dicabut setelah pemantauan | Ditahan atau dihentikan (discontinued) dari Scopus |
Kuartil tinggi pun bukan jaminan mutu. Zezen Zaenal Mutaqin menulis di The Jakarta Post edisi 8 Mei 2026 bahwa sekitar 22 jurnal hukum Indonesia kini berstatus Q1, dan sekitar 7 jurnal hukum Indonesia masuk 100 besar global SCImago pada 2025. Namun banyak yang jarang dikutip akademisi luar negeri.
"Inilah ciri dari apa yang dikenal komunitas akademik sebagai lingkar sitasi: kesepakatan terkoordinasi, sering diam-diam, di antara jurnal yang berafiliasi untuk saling mengutip, sehingga metrik dampaknya membengkak secara artifisial," tulis Zezen Zaenal Mutaqin dalam kolom Academia The Jakarta Post (kutipan diterjemahkan dari bahasa Inggris).
Sementara itu, Scopus punya mekanisme sendiri untuk jurnal yang menyimpang. Menurut kebijakan konten Elsevier, jurnal yang di-flag bisa dievaluasi ulang dan konten barunya ditahan. Bila akhirnya dihentikan, artikel lama umumnya tetap terindeks, tetapi artikel baru tidak lagi masuk Scopus.
Bagaimana cara mengecek peringkat dan masa berlaku jurnal?
Langkah pertama selalu ke sumber resmi, bukan ke unggahan promosi. Ada 4 tempat yang perlu dicek, dan semuanya bisa selesai dalam 10 sampai 15 menit untuk satu jurnal:
- Buka portal SINTA, cari nama jurnal atau ISSN-nya, lalu catat peringkat dan periode akreditasinya.
- Cocokkan dengan laman jurnal itu sendiri, karena Pasal 10 mewajibkan jurnal mencantumkan peringkat beserta masa berlakunya.
- Untuk target internasional, cari ISSN jurnal di SCImago dan lihat kuartil pada kategori yang sesuai dengan topik artikel.
- Periksa daftar sumber Scopus terbaru untuk memastikan jurnal tidak masuk kelompok yang dihentikan (discontinued).
Perhatikan juga nomor terbitan, karena di sinilah banyak penulis ternyata terjebak. Akreditasi biasanya berlaku mulai volume dan nomor tertentu sampai volume dan nomor tertentu, jadi artikel yang terbit di luar rentang itu tidak otomatis ikut terakreditasi. Portal ARJUNA, tempat jurnal mengajukan akreditasi, juga memuat mekanisme dan persyaratan akreditasi yang bisa dijadikan rujukan tambahan.
Apa tanda jurnal predator atau jurnal bermasalah?
Tanda paling umum justru terasa menyenangkan: janji terbit kilat. Unggahan "jasa publikasi" yang menjual slot SINTA 2 atau SINTA 3 dengan LoA instan beredar luas di media sosial, padahal proses telaah sejawat yang wajar jarang selesai dalam hitungan hari.
Waspadai juga biaya yang tidak dicantumkan terbuka, dewan editor yang namanya tidak bisa diverifikasi, klaim indeks yang tidak muncul di SINTA atau Scopus, serta tidak adanya kebijakan etika. Ternyata semua tanda itu bertabrakan langsung dengan syarat akreditasi 2026, sehingga jurnal yang menampilkannya patut diragukan.
Hal yang sama berlaku untuk sitasi di dalam naskah. Referensi yang tampak meyakinkan bisa saja fiktif bila disusun dengan bantuan AI tanpa dicek, dan cara memeriksanya kami jelaskan di panduan mengecek referensi fiktif.
Bagaimana memilih jurnal tujuan dengan bantuan kakak.ai?
Setelah paham peringkat dan kuartil, pekerjaan berikutnya justru menyaring kandidat. Di kakak.ai, fitur Rekomendasi Jurnal di Agen Scholar mencocokkan topik artikel dengan lebih dari 75.000 jurnal yang masih aktif terbit, termasuk lebih dari 12.000 jurnal terbitan Indonesia.
Alurnya dimulai dari sidebar kiri, pilih Agen Scholar, lalu Artikel Ilmiah dan Rekomendasi Jurnal. AI akan menanyakan target publikasi (Sinta 1-4 atau internasional) dan anggaran APC, misalnya di bawah Rp5 juta atau di bawah Rp15 juta, lalu menyusun 5 sampai 10 jurnal dan memeriksa 3 sampai 5 kandidat terbaik satu per satu.
Hasilnya memuat APC dalam rupiah, perkiraan lama terbit, peringkat Sinta, dan peringatan bila jurnal tidak menerbitkan apa pun selama 3 tahun terakhir. Kuartil Scopus memang tidak ditampilkan otomatis, jadi AI memberi tautan SCImago per jurnal agar angka resminya dicek langsung, dan peringkatnya tetap perlu dicocokkan di portal SINTA.
Dari situ, template dan focus and scope jurnal pilihan bisa dibawa ke tahap penulisan. Alur lengkapnya, dari manuskrip sampai submit, ada di artikel workflow publikasi jurnal ilmiah dengan kakak.ai. Bila masih bingung membedakan istilah dasar, mulai dulu dari bedanya paper dan jurnal.
FAQ: Pertanyaan Umum seputar Peringkat SINTA dan Kuartil Scopus
Apakah SINTA 5 dan SINTA 6 masih diakui setelah 2026?
Masih diakui sampai masa akreditasinya habis, sesuai Pasal 16 Permendiktisaintek 9/2026. Saat akreditasi ulang, jurnal tersebut harus meraih nilai minimal 60 agar masuk Peringkat 4, karena tingkat 5 dan 6 tidak ada lagi.
Apakah Peringkat 1 sama dengan SINTA 1?
Secara posisi sama-sama tingkat tertinggi, tetapi dasarnya kini berbeda. Peringkat 1 versi 2026 mensyaratkan nilai 90 sampai 100, naik dari minimal 85 di aturan 2018, dengan bobot penilaian baru, yaitu tata kelola 46 poin dan mutu artikel 54 poin.
Apakah SINTA 1 setara dengan Q1 Scopus?
Tidak setara. SINTA adalah akreditasi nasional berdasarkan penilaian asesor, sementara kuartil Scopus adalah peringkat sitasi per bidang dari SCImago yang dihitung ulang setiap tahun. Satu jurnal bisa SINTA 2 dan Q3, atau sebaliknya.
Berapa lama akreditasi jurnal berlaku?
Akreditasi berlaku 5 tahun. Agar tetap terakreditasi, penerbit jurnal perlu mengajukan akreditasi ulang paling lambat 6 bulan sebelum masa berlaku habis, dan peringkat bisa diturunkan atau dicabut kapan saja bila hasil pemantauan menemukan masalah.
Apakah Rekomendasi Jurnal di kakak.ai gratis?
Fitur ini bisa dicoba dengan akun gratis kakak.ai yang memberi kredit harian. Biaya publikasi (APC) jurnal tujuan tetap dibayar terpisah ke jurnalnya, dan angka APC di hasil rekomendasi perlu dikonfirmasi ulang ke situs resmi jurnal sebelum submit.
Sumber resmi
- Teks Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026 (dimuat LPPM Undip)
- Teks Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2018 yang kini dicabut (dimuat Repository Universitas Sriwijaya)
- Keputusan Dirjen Saintek Nomor 374/2026 tentang Petunjuk Teknis Akreditasi Jurnal Ilmiah (LLDikti Wilayah III)
Bagi mahasiswa yang dikejar tenggat lulus dan dosen yang menghitung angka kredit, perubahan ini sebetulnya kabar baik: aturannya lebih jelas, dan jurnal yang curang lebih mudah ketahuan. Mulai sekarang, sebelum menekan tombol submit, cek tiga hal sekaligus: peringkat, masa berlaku, dan nomor terbitan yang tercakup akreditasinya.
Coba Sekarang, Gratis: cari jurnal tujuan yang pas dengan topik dan anggaranmu lewat Rekomendasi Jurnal di Agen Scholar kakak.ai.
Platform AI all-in-one untuk produktivitas kamu
Coba kakak.ai Gratis