kakak.aiBlog
Semua Artikel
Apa Itu Sitasi Halusinasi AI? Cara Mengecek Referensi Fiktif sebelum Masuk Daftar Pustaka Skripsi
How-to

Apa Itu Sitasi Halusinasi AI? Cara Mengecek Referensi Fiktif sebelum Masuk Daftar Pustaka Skripsi

Oleh Vita·Ditinjau Tim Redaksi kakak.aiSenin, 26 Oktober 202611 menit baca

Daftar pustaka buatan chatbot bisa memuat referensi yang tidak pernah terbit. Kenali sitasi halusinasi AI, data terbarunya, risikonya untuk skripsi, dan cara mengeceknya sebelum bimbingan.

Banyak mahasiswa percaya bahwa daftar pustaka buatan AI cukup dirapikan formatnya lalu aman disetor. Skenarionya kerap begini: seorang mahasiswa meminta chatbot mencarikan 10 referensi untuk Bab 2 skripsinya dan mendapat daftar yang tampak sempurna: nama penulis meyakinkan, judul pas dengan topik, lengkap dengan tahun dan nama jurnal. Namun saat bimbingan, dosennya tidak menemukan satu pun judul itu di mana-mana.

Kejadian seperti ini ternyata bukan cuma menimpa mahasiswa. Dalam audit terhadap 2,5 juta makalah di PubMed Central, tim Columbia University menemukan 4.046 sitasi palsu yang tersebar di 2.810 makalah medis yang sudah lolos peer review. Artinya, referensi fiktif bahkan bisa menembus redaksi jurnal, apalagi sekadar lolos dari mata mahasiswa yang dikejar tenggat sidang.

Sitasi halusinasi AI adalah referensi yang dikarang oleh model AI generatif: tampak seperti rujukan ilmiah sungguhan (ada penulis, judul, tahun, jurnal, kadang DOI), tetapi karya tersebut tidak pernah terbit. Cara paling pasti mendeteksinya adalah mencocokkan setiap referensi ke registri DOI seperti Crossref, lalu mengecek judul, penulis, dan tahunnya satu per satu.

Daftar Isi

Apa Itu Sitasi Halusinasi AI dan Seperti Apa Wujudnya?

Sitasi halusinasi AI adalah referensi yang tampil lengkap dan rapi, tetapi tidak pernah ada di jurnal, buku, atau repositori mana pun. Istilah "halusinasi" dipakai karena model bahasa menyusun jawaban dengan menebak rangkaian kata yang paling mungkin, bukan dengan membuka katalog perpustakaan, sehingga hasil tebakannya bisa terdengar sangat meyakinkan.

Wujudnya pun beragam. Ada judul yang sepenuhnya karangan, ada nama penulis asli yang dipasangkan dengan judul yang tak pernah ia tulis, dan ada pula DOI yang ternyata mengarah ke artikel lain. Justru jenis kedua paling berbahaya, karena nama penelitinya bisa ditemukan di internet sehingga mahasiswa merasa referensinya sudah benar.

Seberapa Besar Masalah Referensi Fiktif di Jurnal Dunia?

Jawabannya: besar, dan grafiknya terus naik sejak pertengahan 2024. Studi Zhenyue Zhao dan rekan yang diunggah ke arXiv pada 8 Mei 2026 mengaudit 111 juta referensi dari 2,5 juta makalah di arXiv, bioRxiv, SSRN, dan PubMed Central. Hasilnya, ada perkiraan konservatif 146.932 sitasi halusinasi sepanjang 2025 saja, angka yang oleh penelitinya disebut sebagai batas bawah.

Studi itu masih berupa preprint dan belum melewati peer review, tetapi rinciannya patut dicermati. Per Agustus 2025, porsi sitasi halusinasi mencapai 1,91% di SSRN, 0,39% di arXiv, 0,27% di PubMed Central, dan 0,21% di bioRxiv. Kenaikan paling curam dimulai pertengahan 2024, kira-kira 18 bulan setelah ChatGPT dirilis akhir 2022.

Temuan serupa datang dari jalur yang sudah peer-reviewed. Research letter Maxim Topaz dan tim di The Lancet edisi 7 Mei 2026 memeriksa 97,1 juta referensi dari makalah yang terbit 1 Januari 2023 sampai 18 Februari 2026. Lajunya naik lebih dari 12 kali lipat, dari sekitar 4 per 10.000 makalah sepanjang 2023 menjadi sekitar 57 per 10.000 pada awal 2026.

"Seorang tenaga medis atau penyusun pedoman klinis tidak punya cara untuk mengetahui bahwa bukti yang mereka andalkan ternyata tidak ada," kata Maxim Topaz, associate professor di Columbia University School of Nursing dan Data Science Institute yang memimpin studi itu, dalam rilis resmi Columbia (kutipan diterjemahkan dari bahasa Inggris).

Salah satu makalah yang mereka periksa bahkan memuat 18 palsu dari 30 referensinya, dan sebagian sitasi palsu itu sudah dikutip ulang oleh makalah lain. Sementara itu, 98,4% makalah terdampak belum mendapat tindakan apa pun dari penerbit saat audit berlangsung, jadi referensi fiktif itu masih beredar bebas.

Kenapa AI Bisa Mengarang Referensi yang Terlihat Asli?

Model bahasa dilatih untuk menghasilkan teks yang lazim, dan pola sitasi ilmiah sangat mudah ditiru: nama belakang, tahun dalam kurung, judul bergaya akademik, nama jurnal. Alhasil, ketika diminta "carikan 10 referensi tentang literasi digital remaja", model bisa merangkai judul yang terlalu pas dengan pertanyaan tanpa pernah memeriksa apakah karya itu terbit.

Pola penggunanya juga menarik. Studi Zhao dan rekan menemukan bahwa penulis yang mengutip sumber halusinasi punya publikasi sebelumnya jauh lebih sedikit, 62,1% lebih sedikit di arXiv dan 73,2% di SSRN dibanding kelompok pembanding. Di SSRN, 51,0% dari mereka bahkan belum punya publikasi sebelumnya sama sekali, tanda bahwa penulis pemula paling rentan.

Penyaringan pun ternyata bolong. Tim yang sama memperkirakan 78,8% sitasi fiktif lolos moderasi arXiv dan tetap tayang. Padahal, menurut para peneliti itu, verifikasi sitasi termasuk masalah halusinasi yang paling mudah dideteksi karena objeknya jelas dan infrastruktur pencariannya sudah tersedia.

Apa Risikonya Kalau Referensi Fiktif Lolos ke Skripsi?

Di Indonesia, rujukan utamanya adalah Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2021 tentang Integritas Akademik dalam Menghasilkan Karya Ilmiah. Pasal 10 ayat (1) mendefinisikan fabrikasi sebagai "pembuatan data penelitian dan/atau informasi fiktif", dan fabrikasi tercantum di Pasal 9 bersama plagiat, falsifikasi, dan tiga jenis pelanggaran lain.

Referensi fiktif karena itu berpotensi dinilai sebagai fabrikasi informasi, namun keputusan akhirnya ada di kampus. Peraturan itu membagi pelanggaran menjadi ringan, sedang, dan berat, dan sanksinya dijatuhkan pemimpin perguruan tinggi dengan mempertimbangkan rekomendasi senat. Untuk mahasiswa, Pasal 17 menyebut rentang sanksinya, mulai dari pengurangan nilai karya ilmiah sampai pemberhentian status mahasiswa atau pembatalan ijazah, sementara tata caranya ditetapkan tiap kampus.

Perdebatan serupa berlangsung di luar negeri. David B. Resnik dan Mohammad Hosseini, dalam artikel di jurnal Accountability in Research yang terbit 15 Maret 2026, berargumen bahwa sitasi halusinasi bisa tergolong pelanggaran riset menurut regulasi federal Amerika Serikat bila sitasi itu berfungsi sebagai data penelitian, misalnya dalam artikel tinjauan atau studi bibliometrik, dan penelitinya abai tidak memeriksa keluaran AI sama sekali.

"Mengakui bahwa sitasi halusinasi dari AI generatif dapat dianggap pelanggaran riset dalam kasus tertentu diharapkan mendorong peneliti menanggapi masalah ini lebih serius daripada sekarang," tulis Resnik dan Hosseini dalam abstrak artikel tersebut (kutipan diterjemahkan dari abstrak berbahasa Inggris).

Bagaimana Cara Mengecek Referensi Fiktif Secara Manual?

Cara paling andal adalah mencocokkan setiap referensi ke registri resmi, bukan sekadar mengetik judulnya di mesin pencari. Mesin pencari berbasis kemiripan selalu mengembalikan hasil yang "mirip", sehingga tidak pernah bisa membuktikan sebuah karya benar-benar tidak ada. Berikut enam langkah yang bisa dikerjakan dalam 15 sampai 30 menit untuk 20 referensi.

1. Tempel DOI ke doi.org

Kalau referensi mencantumkan DOI, tempelkan ke resolver DOI resmi. DOI karangan biasanya gagal dibuka, sementara DOI curian akan membuka artikel lain, jadi cocokkan judul, penulis, tahun, dan nama jurnal di halaman penerbitnya, bukan hanya memastikan tautannya terbuka.

2. Cocokkan sekaligus lewat Crossref

Untuk daftar panjang, Crossref Simple Text Query menerima tempelan daftar pustaka, satu referensi per baris yang diberi nomor atau diurutkan alfabetis, hingga 1.000 referensi per kiriman secara gratis. Referensi tunggal bisa dicari judulnya di Crossref Search.

3. Cek silang di OpenAlex dan Semantic Scholar

Kedua katalog terbuka ini, OpenAlex dan Semantic Scholar, memuat ratusan juta karya dan membantu menemukan makalah yang tidak terdaftar di Crossref. Menariknya, kedua indeks ini juga yang dipakai tim Zhao untuk mencocokkan judul dalam audit mereka.

4. Untuk jurnal Indonesia, buka Garuda dan SINTA

Banyak jurnal lokal belum punya DOI, sehingga pencarian DOI saja tidak cukup. Gunakan Garuda dan SINTA di domain Kemdiktisaintek, karena alamat lama berakhiran kemdikbud.go.id kini sudah tidak aktif.

5. Pastikan artikelnya tidak ditarik

Referensi yang benar-benar ada pun belum tentu aman dikutip. Retraction Watch Database mencatat artikel yang sudah ditarik penerbit, dan mengutip makalah yang ditarik jauh lebih merusak kredibilitas daripada salah menulis nomor halaman.

6. Buku dan laporan: cek ke sumber resminya

Buku, laporan BPS, dokumen kementerian, dan skripsi umumnya tidak punya DOI. Tidak ber-DOI bukan berarti palsu, jadi cek ke katalog penerbit, situs resmi lembaganya, atau repositori kampus sebelum menyimpulkan apa pun.

Waspadai juga tanda bahayanya: judul yang terlalu pas dengan topik skripsi, nama penulis asli dengan judul yang tak pernah ada di profilnya, volume dan halaman yang tidak cocok, nama jurnal yang tidak ditemukan, atau DOI yang membuka artikel berbeda. Satu tanda saja sudah cukup alasan untuk memeriksa ulang.

Perbandingan Alat untuk Mengecek Referensi

Cara cekCocok untukKelebihanKeterbatasan
doi.orgReferensi ber-DOIPaling definitif untuk satu entriTidak berguna bila DOI tidak dicantumkan
Crossref Simple Text QueryDaftar pustaka panjangGratis, hingga 1.000 referensi sekali kirimHanya karya yang terdaftar di Crossref
OpenAlex dan Semantic ScholarCek silang judul dan penulisCakupan sangat luas, gratisPencarian kemiripan, tidak membuktikan karya tidak ada
Garuda dan SINTAJurnal Indonesia tanpa DOIMenjangkau jurnal lokalPerlu dicek satu per satu
Retraction Watch DatabaseStatus penarikan artikelMendeteksi paper yang sudah ditarikTidak mengecek keberadaan referensi
Cek Sitasi & Referensi kakak.aiHingga 20 referensi per putaranStatus per referensi plus sitasi siap salinPaper yang sangat baru bisa belum terindeks

Bagaimana Cek Sitasi & Referensi di kakak.ai Membantu?

Mengecek 30 referensi satu per satu bisa memakan satu sore penuh. Di kakak.ai, pekerjaan itu bisa dipercepat lewat skill Scholar Cek Sitasi & Referensi: buka sidebar kiri, pilih Agen Scholar, masuk ke Artikel Ilmiah, klik Cek Sitasi & Referensi, tekan Buat, lalu tempel daftar pustakamu. Panduan lengkapnya ada di halaman bantuan kakak.ai.

Setiap putaran memeriksa hingga 20 referensi langsung ke registri DOI resmi. Hasilnya berupa status per entri: Terverifikasi, Perlu Koreksi bila detail yang ditulis berbeda dari data penerbit, Tidak Ditemukan, Ditarik untuk paper yang sudah di-retract, atau Perlu Konfirmasi bila hasilnya belum meyakinkan. Buku dan laporan tanpa DOI dicek lewat pencarian web dulu, sehingga tidak langsung divonis palsu.

Hasilnya juga menyertakan sitasi yang sudah diformat dan siap disalin, dengan gaya APA 7th sebagai bawaan serta pilihan IEEE, Vancouver, Harvard, dan Chicago. Satu catatan: paper yang terbit kurang dari empat minggu lalu bisa belum terindeks, jadi status "Tidak Ditemukan" untuk paper sangat baru perlu dicek manual ke situs penerbitnya.

Pencegahan dari hulu justru lebih hemat waktu. Cari referensi lewat Cari Artikel Ilmiah dan Koleksi Artikel di kakak.ai, yang menelusuri Semantic Scholar, OpenAlex, dan PubMed, lalu simpan hasilnya ke Koleksi Artikel sebagai reference manager. Dengan begitu, sejak awal setiap rujukan berasal dari karya yang memang terindeks, bukan dari tebakan chatbot.

Untuk klaim di luar daftar pustaka, membandingkan jawaban beberapa model lewat Multi-Model Verification membantu menangkap jawaban yang meleset. Kalau kampus atau jurnal tujuanmu meminta pernyataan penggunaan AI, baca juga panduan AI disclosure di artikel ilmiah dan cek keaslian naskah lewat Detektor AI dan Cek Similaritas.

FAQ Seputar Sitasi Halusinasi AI

Apakah referensi tanpa DOI pasti palsu?

Tidak. Buku, laporan pemerintah, skripsi, dan banyak jurnal Indonesia memang tidak punya DOI. Cek ke katalog penerbit, situs resmi lembaga, Garuda, SINTA, atau repositori kampus sebelum menyimpulkan referensi itu fiktif.

Bolehkah memakai AI untuk mencari referensi skripsi?

Boleh selama setiap referensi diverifikasi ke sumber aslinya dan dibaca isinya, serta mengikuti aturan kampus soal penggunaan AI. Yang berisiko adalah menyalin daftar pustaka dari chatbot tanpa membuka satu pun karyanya.

Apa sanksi referensi fiktif di kampus Indonesia?

Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2021 menggolongkan fabrikasi, yaitu pembuatan data atau informasi fiktif, sebagai pelanggaran integritas akademik dengan tingkat ringan, sedang, dan berat. Referensi fiktif berpotensi dinilai fabrikasi. Bila terbukti, sanksi untuk mahasiswa berkisar dari pengurangan nilai karya ilmiah sampai pemberhentian status mahasiswa atau pembatalan ijazah, dijatuhkan oleh pemimpin perguruan tinggi.

Apa beda sitasi halusinasi dengan plagiat?

Plagiat memakai karya orang lain tanpa menyebut sumbernya, sedangkan sitasi halusinasi menyebut sumber yang tidak pernah ada. Keduanya pelanggaran berbeda, tetapi sama-sama merusak kepercayaan pembaca terhadap tulisan.

Apakah Cek Sitasi & Referensi di kakak.ai gratis?

Skill ini bisa dipakai dengan akun gratis kakak.ai yang mendapat kredit harian. Setiap putaran memeriksa hingga 20 referensi, jadi daftar pustaka yang lebih panjang cukup dipecah menjadi beberapa putaran.

Kini, ketika 146.932 sitasi karangan beredar hanya dalam setahun, kebiasaan mengecek referensi sudah sama pentingnya dengan kebiasaan membaca sumber. Untuk mahasiswa yang sedang menyusun Bab 2, lima belas menit verifikasi sebelum bimbingan jauh lebih murah daripada revisi besar menjelang sidang.

Coba Cek Sitasi & Referensi Sekarang, Gratis

Platform AI all-in-one untuk produktivitas kamu

Coba kakak.ai Gratis