kakak.aiBlog
Semua Artikel
Wamenkomdigi Nezar Patria Ingatkan Risiko Agentic AI di Perbankan dan Kesehatan: Ini Artinya bagi Pengguna
News

Wamenkomdigi Nezar Patria Ingatkan Risiko Agentic AI di Perbankan dan Kesehatan: Ini Artinya bagi Pengguna

Oleh Vita·Ditinjau Tim Redaksi kakak.aiMinggu, 1 November 20269 menit baca

Lewat siaran pers Komdigi, Jumat 30 Oktober 2026, Wamenkomdigi Nezar Patria mengingatkan salah keputusan agentic AI bisa membuat uang nasabah hilang hingga mengancam keselamatan pasien. Ini kronologi, aturan yang disiapkan, dan langkah praktis bagi pengguna AI.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan bahwa kesalahan keputusan kecerdasan artifisial (AI) di sektor keuangan dan kesehatan bisa berakibat fatal, dari uang nasabah yang hilang sampai keselamatan pasien. Peringatan itu dimuat dalam Siaran Pers Kementerian Komunikasi dan Digital No. 245/HM-KKD/10/2026 yang terbit Jumat (30/10/2026), berdasarkan wawancara Nezar dengan CNBC Indonesia di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2026).

Sorotan Nezar tertuju pada agentic AI, yaitu AI yang tidak lagi sekadar memberi saran, tetapi diberi wewenang untuk bertindak dan mengambil keputusan sendiri. Selama ini kekhawatiran soal AI lebih sering berkisar pada jawaban yang keliru. Kini, ketika AI mulai bisa mengeksekusi transaksi atau membantu diagnosis, kekeliruan itu ternyata tidak berhenti di layar.

Ringkasnya: Lewat siaran pers Komdigi pada Jumat (30/10/2026), Wamenkomdigi Nezar Patria menilai agentic AI yang diberi otoritas bertindak di perbankan bisa menyebabkan uang hilang hingga kekacauan sistemik bila salah eksekusi, sementara AI diagnosis di layanan kesehatan berisiko tinggi karena menyangkut nyawa. Ia merujuk UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi dan UU ITE sebagai pagar yang sudah ada. Siaran pers itu juga menyebut pemerintah menyiapkan Peta Jalan Nasional AI dan Etika AI yang diharapkan menjadi Peraturan Presiden.

Daftar Isi

Apa yang disampaikan Nezar Patria soal risiko AI?

Nezar justru menegaskan pemanfaatan AI tidak cukup hanya mengejar inovasi dan efisiensi. Menurut siaran pers Komdigi, risiko perlu dihitung sejak AI mulai mengambil peran dalam proses pengambilan keputusan, dan 2 sektor yang ia soroti secara khusus adalah jasa keuangan serta kesehatan.

Di sektor keuangan, kekhawatirannya justru muncul ketika perusahaan memberi agentic AI kewenangan menjalankan tindakan dan keputusan secara mandiri. Satu kesalahan eksekusi, menurut Nezar, bisa membuat uang hilang, bahkan merembet menjadi kekacauan yang bersifat sistemik.

"Di sektor layanan keuangan, misalnya perbankan, penggunaan AI, apalagi agentic AI, ketika kita memberikan otoritas kepadanya untuk melakukan tindakan dan pengambilan keputusan, apabila terjadi kesalahan, maka akan menjadi fatal. Uang bisa hilang atau bahkan menimbulkan kekacauan yang bersifat sistemik akibat kesalahan eksekusi," ujar Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, dalam siaran pers Komdigi.

Sementara itu di layanan kesehatan, AI mulai dipakai untuk membantu diagnosis dan mendukung keputusan medis. Namun, kesalahan rekomendasi atau diagnosis bisa membawa konsekuensi serius karena menyangkut keselamatan manusia, baik saat AI dipakai oleh dokter maupun oleh agen AI dalam layanan medis.

"Di sektor kesehatan, misalnya penggunaan AI untuk mendiagnosis penyakit dan membantu pengambilan keputusan, baik oleh dokter maupun oleh agen AI dalam layanan medis, juga memiliki risiko tinggi. Di bidang kesehatan, yang dipertaruhkan adalah nyawa manusia," tegas Nezar Patria dalam siaran pers yang sama.

Pernyataan ini kemudian diberitakan Antara pada Jumat (30/10/2026) pukul 23.44 WIB, lalu InfoPublik pada Sabtu (31/10/2026) pukul 00.09 WIB dan BeritaSatu pukul 08.35 WIB. Ketiganya memuat kutipan dari siaran pers yang sama, sehingga sumber utamanya tetap keterangan resmi Komdigi.

Bagaimana kronologi pernyataan ini?

Peringatan pada akhir Oktober ternyata bukan yang pertama. Dua pekan sebelumnya, Nezar sudah meminta pelaku bisnis mengenali agen AI yang mereka pakai. Berikut urutannya berdasarkan sumber yang kami periksa:

WaktuPeristiwaSumber
Jumat, 16 Oktober 2026Antara memberitakan imbauan Nezar agar pelaku bisnis menerapkan prinsip "Know Your Agent" untuk agen AIAntara
Selasa, 27 Oktober 2026Nezar diwawancarai CNBC Indonesia di Kantor Komdigi, Jakarta PusatSiaran Pers Komdigi No. 245
Jumat, 30 Oktober 2026Komdigi menerbitkan siaran pers soal risiko AI di keuangan dan kesehatanKomdigi, Antara
Sabtu, 31 Oktober 2026InfoPublik dan BeritaSatu memuat pernyataan yang samaInfoPublik, BeritaSatu

Dalam berita Antara edisi Jumat (16/10/2026), yang mengutip keterangan pers sebuah perusahaan, Nezar menyebut perusahaan kini perlu memahami identitas, kepemilikan, dan batas kewenangan setiap agen AI. "Bukan lagi KYC, Know Your Customer, tapi harus ada KYA, Know Your Agent," katanya saat itu. Ia juga mengingatkan, "Dengan mesin bisa membuat keputusan sendiri, risiko meningkat."

Mengapa data pribadi ikut jadi sorotan?

Data pribadi menjadi sorotan karena AI ternyata sangat bergantung pada data, termasuk data kesehatan yang sangat sensitif. Menurut siaran pers Komdigi, pengelolaan data pasien harus dilakukan hati-hati supaya informasi warga tidak bocor atau disalahgunakan, dan Nezar menyebut UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi sebagai salah satu instrumen penting untuk menjaga ekosistem AI nasional.

"Kita sudah punya seperangkat regulasi yang menjaga ekosistem AI meski tidak berhubungan langsung dengannya, seperti Undang-Undang ITE dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Ini penting sekali karena kalau bicara soal AI kan makanannya data," tutur Nezar Patria dalam siaran pers Komdigi.

Bagi pengguna, kalimat "makanannya data" ini justru pengingat sederhana. Setiap hasil lab, foto resep, atau mutasi rekening yang diunggah ke layanan AI ikut menjadi bahan yang diproses. Hal-hal yang perlu dicek sebelum mengunggah dokumen sudah kami bahas di artikel seberapa aman data saat memakai AI.

Aturan AI apa yang sedang disiapkan pemerintah?

Pemerintah kini sedang menyiapkan Peta Jalan Nasional AI dan Etika AI yang diharapkan menjadi Peraturan Presiden. Menurut siaran pers Komdigi, kerangka itu disiapkan untuk memberi arah pengembangan teknologi sekaligus memastikan prinsip etika dan pelindungan masyarakat ikut diperhatikan.

Namun, Nezar menyatakan pemerintah perlu memetakan perkembangan teknologi secara menyeluruh lebih dulu supaya aturannya tidak terlalu berat. Pada Jumat (30/10/2026), Menkomdigi Meutya Hafid juga menyinggung rencana Perpres yang sama di Indonesia Youth Summit 2026, seperti kami tulis di artikel ajakan Meutya Hafid agar anak muda jadi pencipta AI.

"Kita harus memetakan dulu perkembangan secara menyeluruh supaya tidak terlalu berat dalam regulasi. Yang kita butuhkan sekarang adalah mendorong inovasi, tetapi pada saat yang sama risiko-risiko yang muncul dari adopsi teknologi AI di setiap sektor juga harus diperhatikan," jelas Nezar Patria dalam siaran pers Komdigi.

Sementara itu, hingga Minggu (1/11/2026) pagi, siaran pers maupun media yang kami periksa belum menyebut tanggal target terbitnya Perpres tersebut. Jadi, untuk sementara, pagar utama yang berlaku tetap UU ITE dan UU Nomor 27 Tahun 2022.

Apa artinya bagi pengguna AI sehari-hari?

Peringatan Nezar memang diarahkan ke perusahaan dan penyedia layanan. Namun, pengguna biasa, termasuk mahasiswa yang mulai mencoba agen AI di ponsel dan laptop, bisa memetik 4 kebiasaan sederhana dari pesan ini:

  1. Jangan beri agen AI kuasa penuh atas uang. Kalau agen AI bisa memesan tiket atau membayar sesuatu, pastikan setiap transaksi tetap meminta konfirmasi darimu. Perbedaan agen AI di HP dan laptop kami ulas di artikel AI agent yang bisa dipakai pelajar Indonesia.
  2. Perlakukan jawaban kesehatan dari AI sebagai bahan bertanya, bukan diagnosis. AI bisa membantu memahami istilah medis, tetapi keputusan pengobatan tetap ada di tangan dokter.
  3. Saring data sebelum diunggah. Tutup nomor rekening, NIK, dan identitas pasien sebelum dokumen dibaca AI.
  4. Cek ulang angka dan sumber. AI bisa keliru dengan nada yakin, bahkan mengarang referensi. Cara mengeceknya ada di artikel cara mengecek referensi fiktif dari AI.

Salah satu pijakan kebiasaan ini adalah prinsip human in the loop, yang juga ditekankan Nezar di Balai Besar Pelatihan SDM Komdigi Makassar pada Kamis (29/10/2026), menurut siaran pers Komdigi No. 243. Kerangka kemampuan yang lebih lengkap juga bisa dibaca di artikel empat kemampuan literasi AI untuk siswa dan guru.

FAQ: Peringatan Wamenkomdigi soal Risiko AI di Keuangan dan Kesehatan

Kapan Nezar Patria menyampaikan peringatan ini?

Nezar menyampaikannya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat, pada Selasa (27/10/2026). Pernyataan itu dirilis lewat Siaran Pers Komdigi No. 245/HM-KKD/10/2026 pada Jumat (30/10/2026).

Apa itu agentic AI yang disorot Nezar?

Agentic AI adalah AI yang diberi otoritas untuk melakukan tindakan dan mengambil keputusan secara mandiri, bukan hanya memberi rekomendasi. Contohnya agen AI yang bisa menjalankan transaksi di layanan perbankan.

Apa risiko AI di sektor kesehatan menurut Komdigi?

Menurut siaran pers Komdigi, kesalahan diagnosis atau rekomendasi AI bisa berdampak serius karena menyangkut keselamatan pasien. Risiko lainnya adalah kebocoran atau penyalahgunaan data kesehatan yang sangat sensitif.

Aturan apa yang sudah berlaku untuk AI di Indonesia?

Belum ada undang-undang khusus AI. Nezar menyebut UU ITE dan UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi sebagai regulasi yang ikut menjaga ekosistem AI, sementara Peta Jalan Nasional AI dan Etika AI disiapkan untuk menjadi Peraturan Presiden.

Apakah pengguna biasa perlu khawatir memakai AI?

Tidak perlu berhenti memakai AI, tetapi kendali perlu tetap di tangan pengguna. Mintalah konfirmasi sebelum transaksi, jangan mengunggah data sensitif sembarangan, dan perlakukan jawaban kesehatan dari AI sebagai bahan konsultasi dengan dokter.

Pesan Nezar pada akhir Oktober ini pada dasarnya satu: makin besar wewenang yang diberikan kepada AI, makin besar pula akibat dari satu kesalahan. Bahkan sebelum Perpres AI terbit, pengguna sudah bisa mulai menjaga kendali dari kebiasaan kecil.

Kalau ingin berlatih memakai AI sebagai teman berpikir, bukan pengambil keputusan, kamu bisa mencobanya di kakak.ai: minta kakak.ai menjelaskan istilah di hasil lab atau syarat produk keuangan dengan bahasa sederhana, lalu bawa daftar pertanyaannya ke dokter atau petugas bank. Coba Sekarang, Gratis.

Platform AI all-in-one untuk produktivitas kamu

Coba kakak.ai Gratis