Apa itu SLR (Systematic Literature Review) dan Bedanya Sama Literature Review Biasa
SLR adalah metode tinjauan pustaka yang sistematis, transparan, dan bisa direplikasi. Kenali bedanya sama literature review biasa, langkah membuatnya, dan cara AI mempercepat prosesnya.
Apa itu SLR (Systematic Literature Review) dan Bedanya Sama Literature Review Biasa
Pernah denger istilah SLR disebut-sebut di kelas metodologi penelitian atau pas dosen pembimbing bilang "tinjauan pustakanya jangan asal comot, bikin yang sistematis"? Kalau kamu garuk-garuk kepala nggak berani nanya, kamu nggak sendiri. Banyak mahasiswa skripsi dan tesis yang baru sadar kalau literature review itu ada level-levelnya, dan SLR adalah salah satu level yang paling dihargai di dunia akademik.
Masalahnya, kalau kamu sudah terlanjur bikin tinjauan pustaka biasa lalu diminta ganti pakai metode SLR, kebingungannya bisa dobel: harus paham konsepnya sekaligus ngerjain ulang bab 2 dari awal. Padahal kalau kamu tahu cara kerjanya dari awal, prosesnya justru jadi lebih rapi dan lebih gampang dipertanggungjawabkan di sidang.
Apa itu SLR? SLR (Systematic Literature Review) adalah metode peninjauan literatur yang terstruktur, transparan, dan bisa diulang orang lain: mulai dari research question yang jelas, strategi pencarian yang terdokumentasi, kriteria inklusi dan eksklusi, screening, penilaian kualitas, sampai sintesis hasil. Berbeda dari literature review biasa yang pemilihan sumbernya lebih fleksibel, SLR punya protokol eksplisit supaya hasilnya minim bias dan bisa direplikasi.
Daftar Isi
- Apa itu SLR (Systematic Literature Review)?
- Kenapa SLR penting buat skripsi dan tesis?
- Bedanya SLR sama literature review biasa
- Gimana cara bikin SLR dari awal?
- Kapan kamu sebenarnya nggak perlu SLR?
- FAQ
Apa itu SLR (Systematic Literature Review)?
SLR adalah singkatan dari Systematic Literature Review, yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai tinjauan pustaka sistematis. Ini bukan sekadar "mengumpulkan banyak jurnal lalu dirangkum satu per satu". SLR adalah sebuah metode penelitian tersendiri yang dijalankan dengan urutan langkah yang jelas dan terdokumentasi.
Menurut Okoli (2015), yang artikel panduannya sudah dikutip lebih dari 1.400 paper ilmiah (a guide to conducting a standalone systematic literature review), SLR yang berdiri sendiri harus melewati delapan langkah utama:
- Research question yang jelas. Pertanyaan penelitian harus spesifik dan bisa dijawab lewat literatur.
- Strategi pencarian. Tentukan database, kata kunci, dan kombinasi pencarian sebelum mulai cari paper.
- Kriteria inklusi dan eksklusi. Tentukan dari awal paper macam apa yang boleh masuk (misal: tahun terbit, bahasa, jenis studi).
- Screening. Saring hasil pencarian berdasarkan judul dan abstrak, lalu baca penuh yang lolos.
- Penilaian kualitas. Evaluasi seberapa baik metodologi tiap paper yang masuk.
- Ekstraksi data. Ambil data penting dari tiap paper secara konsisten.
- Sintesis. Gabungkan temuan-temuan itu jadi kesimpulan yang utuh.
- Pelaporan. Tulis seluruh proses secara transparan supaya orang lain bisa mengulangnya.
Standar pelaporan yang paling populer untuk SLR adalah PRISMA flow diagram, yaitu diagram alur yang menunjukkan berapa paper ditemukan, berapa yang tersaring, dan berapa yang akhirnya dipakai. Pedoman lengkapnya tersedia di situs resmi PRISMA. Dosen atau reviewer jurnal biasanya langsung mencari diagram ini saat menilai kualitas tinjauan pustaka kamu.
Kenapa SLR penting buat skripsi dan tesis?
Di tingkat skripsi dan tesis, SLR sering dipakai untuk dua hal: membangun bab tinjauan pustaka yang solid, dan menemukan research gap atau celah penelitian. Gap ini penting banget karena jadi dasar kamu menyusun rumusan masalah dan klaim kebaruan penelitianmu.
Kalau kamu review literatur secara acak, gap yang kamu temukan biasanya lemah, karena kamu cuma melihat sebagian kecil dari paper yang ada. Dengan SLR, kamu memetakan hampir semua penelitian relevan di topik tertentu, jadi celah yang kamu temukan benar-benar menunjukkan kekosongan di literatur, bukan cuma "belum ada yang nulis topik ini di Google".
Marzi dan koleganya (2024) menekankan bahwa SLR yang digabung dengan analisis bibliometrik bisa menghasilkan sintesis teori yang jauh lebih kuat, dengan 10 langkah yang menggabungkan analisis, sintesis, dan pengembangan teori. Ini menunjukkan kenapa SLR nggak cuma populer di ilmu sosial dan kesehatan, tapi juga makin sering dipakai di bidang manajemen, teknologi, dan pendidikan.
Bedanya SLR sama literature review biasa
Banyak mahasiswa mengira keduanya sama, padahal perbedaannya fundamental. Literature review biasa itu fleksibel: kamu pilih sumber yang menurutmu relevan, rangkum, lalu jalin jadi narasi. Itu nggak salah, dan sering jadi bagian awal dari bab 2. Tapi hasilnya sulit dipertanggungjawabkan secara metodologis karena nggak ada protokol yang terdokumentasi.
| Aspek | Literature Review Biasa | SLR (Systematic Literature Review) |
|---|---|---|
| Protokol | Tidak wajib | Wajib dan terdokumentasi |
| Strategi pencarian | Fleksibel, sesuai kebutuhan penulis | Eksplisit, bisa diulang peneliti lain |
| Kriteria pemilihan sumber | Subjektif | Inklusi dan eksklusi ditentukan di awal |
| Risiko bias | Tinggi | Minimal |
| Waktu pengerjaan | Relatif cepat | Lama, butuh ketelitian |
| Hasil | Narasi ringkasan | Sintesis + sering dilengkapi PRISMA diagram |
| Cocok untuk | Bab pendahuluan, proposal awal | Skripsi/tesis, artikel jurnal, gap analysis |
Ringkasnya: kalau kamu butuh gambaran umum topik dengan cepat, literature review biasa cukup. Kalau kamu mau membangun tinjauan pustaka yang jadi fondasi metodologis penelitianmu dan menemukan gap yang benar-benar teruji, SLR adalah pilihan yang jauh lebih kuat.
Gimana cara bikin SLR dari awal?
SLR memang butuh waktu dan ketelitian, tapi kabar baiknya alurnya sudah sangat terstandar. Berikut langkah praktis yang bisa kamu ikuti:
1. Tentukan research question yang tajam dan terukur
Pertanyaan seperti "bagaimana AI dipakai di pendidikan?" terlalu luas. Perbaiki jadi "apa saja faktor yang memengaruhi penerimaan aplikasi AI oleh dosen di Indonesia antara 2020 dan 2026?" Research question yang tajam akan memandu seluruh pencarianmu nanti.
2. Susun strategi pencarian dan kriteria
Tentukan database yang kamu pakai, kata kunci utama dan sinonimnya, lalu kriteria inklusi (misal: paper 2020-2026, berbahasa Inggris atau Indonesia, studi empiris) dan eksklusi (misal: opini tanpa data). Catat semua keputusan ini, karena nanti wajib dilaporkan.
3. Screening dan penilaian kualitas
Lakukan dua tahap screening: pertama dari judul dan abstrak, lalu baca penuh paper yang lolos. Evaluasi metodologi tiap paper dan pastikan hanya paper berkualitas yang masuk sintesis.
4. Ekstraksi, sintesis, dan pelaporan
Ambil data dari tiap paper secara konsisten, cari pola bersama dan perbedaan, lalu tulis sintesisnya. Terakhir, gambar PRISMA flow diagram dan laporkan seluruh proses secara transparan.
5. Percepat prosesnya dengan bantuan AI
SLR yang murni manual bisa makan waktu berminggu-minggu. Kamu bisa mempercepat bagian pencarian, screening, dan sintesis dengan bantuan alat AI akademik. Misalnya, dalam Scholar kakak.ai ada skill Literature Review untuk merangkum dan memetakan literatur jadi tinjauan pustaka terstruktur, plus skill Systematic Literature Review khusus buat SLR terstruktur dan analisis research gap. Platform ini mengakses lebih dari 200 juta paper ilmiah lewat satu pintu, lengkap dengan 50+ skill akademik yang menemani dari fase ide sampai penyusunan proposal. Kalau kamu masih di awal perjalanan skripsi, panduan workflow lengkap kakak.ai untuk mahasiswa bisa kasih tahu urutan langkah dari proposal sampai sidang.
Perlu diingat, hasil bantuan AI itu draf awal yang tetap harus kamu review dan sesuaikan dengan data risetmu. Yang dilakukan AI adalah mempercepat kerja administratif dan pencarian, bukan menggantikan penilaian akademik kamu sebagai peneliti. Buat gambaran menyeluruh soal cara kerja AI akademik untuk skripsi, baca panduan lengkap Scholar Agents kakak.ai untuk literature review dan research gap.
Kapan kamu sebenarnya nggak perlu SLR?
SLR bukan satu-satunya cara, dan nggak selalu wajib. Kamu bisa memilih literature review biasa kalau: topikmu masih sangat baru sehingga paper-nya sedikit, kamu cuma butuh gambaran konteks untuk proposal, atau pembimbing memang tidak mensyaratkan pendekatan sistematis. Paul dan Barari (2022) juga mengingatkan pentingnya memahami kapan pendekatan meta-analisis dan kapan SLR tradisional lebih tepat, supaya metodenya sejalan dengan pertanyaan penelitianmu.
Intinya, pilih metode yang sesuai kebutuhan, bukan yang terdengar paling keren. SLR itu alat untuk menjawab pertanyaan penelitian tertentu dengan kualitas terbaik, bukan sertifikat wajib di setiap skripsi.
Kalau metode ini baru pertama kali kamu kenal, wajar kalau masih banyak yang mengganjal. Seri "Apa itu" di blog ini juga membahas konsep lain yang sering bikin mahasiswa bingung, misalnya apa itu RPS OBE dan cara membuatnya. Begitu kamu paham cara kerja tinjauan pustaka, kamu bisa fokus ke bab-bab lain dengan kepala yang lebih tenang.
FAQ
Apa beda SLR sama meta-analisis?
SLR berfokus pada sintesis naratif dari temuan-temuan studi yang relevan. Meta-analisis melangkah lebih jauh dengan menggabungkan data kuantitatif dari studi-studi tersebut secara statistik. Meta-analisis biasanya lahir dari proses SLR, tapi SLR bisa berdiri sendiri tanpa meta-analisis.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan buat bikin SLR?
Tergantung luas topik dan jumlah paper, tapi SLR manual yang serius biasanya butuh 2 sampai 6 minggu termasuk screening dan penulisan. Dengan bantuan AI untuk pencarian dan peringkasan awal, sebagian proses bisa dipangkas, tapi penilaian kualitas paper tetap butuh waktu baca kamu.
SLR harus pakai PRISMA?
Belum tentu wajib, tapi sangat disarankan, terutama untuk skripsi, tesis, dan artikel jurnal. PRISMA flow diagram membuat prosesmu transparan dan mudah dinilai reviewer. Untuk disiplin tertentu ada juga standar lain seperti ENTREQ untuk studi kualitatif.
Apakah bantuan AI buat SLR gratis di kakak.ai?
kakak.ai menawarkan paket gratis untuk mencoba. Skill Literature Review dan Systematic Literature Review di Scholar bisa kamu pakai untuk mempercepat pemetaan literatur dan analisis research gap, lalu tingkatkan ke paket berbayar kalau kebutuhanmu makin besar.
SLR cocok buat semua bidang ilmu?
Secara prinsip iya. SLR awalnya populer di bidang kesehatan dan psikologi, tapi sekarang banyak dipakai di manajemen, teknologi informasi, pendidikan, dan ilmu sosial. Kamu tinggal menyesuaikan strategi pencarian dan kriteria dengan karakteristik literatur di bidangmu.
Platform AI all-in-one untuk produktivitas kamu
Coba kakak.ai Gratis